Siang itu, di sebuah ruangan sederhana di bilangan Cengkareng, beberapa anak muda duduk melingkar. Di hadapan mereka, layar laptop menampilkan deretan konten berwarna pastel: infografik, video pendek, dan ilustrasi ringan bertuliskan #TidakLagiTabu. Di tengah mereka, Alvin Theodorus menatap layar dengan serius, lalu tersenyum kecil. “Kita ubah cara orang belajar tentang seksualitas, tapi tetap dengan bahasa yang mereka pahami,” ujarnya.
Dari ruangan kecil itulah, lahir Tabu.id — sebuah inisiatif anak muda yang ingin menormalkan percakapan soal kesehatan seksual dan reproduksi. Bukan lewat ceramah kaku, tapi dengan gaya visual yang ramah, informatif, dan relevan bagi generasi muda.
Contents
Membuka Tabu di Ruang Digital
Ide itu bermula dari keresahan. Alvin dan teman-temannya sering menemukan teman sebaya mencari informasi soal seksualitas di internet — tapi banyak yang berakhir pada sumber yang keliru atau bahkan menyesatkan. “Kita sadar, banyak anak muda tahu seks hanya dari gosip, film, atau media yang salah,” katanya.
Sebagai lulusan yang aktif di dunia sosial, Alvin tahu dampak ketidaktahuan ini tidak main-main. Berdasarkan data BKKBN, hanya 52,4 persen pemuda Indonesia memiliki pengetahuan memadai soal kesehatan reproduksi. Angka itu berbanding lurus dengan meningkatnya kasus kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual. “Kita enggak bisa terus menutup mata,” ujar Alvin, “kalau pengetahuan soal tubuh sendiri masih dianggap aib, siapa yang akan melindungi generasi muda?”
Maka pada Februari 2018, bersama tiga rekan lain, Alvin mendirikan Tabu.id. Namanya diambil dari kata “tabu” — simbol dari hal-hal yang sering dihindari untuk dibicarakan. Tapi mereka ingin membalik makna itu: menjadikan topik tabu sebagai ruang belajar yang sehat.
Dari Instagram ke Ruang Edukasi Nyata
Awalnya, Tabu.id hanya akun media sosial sederhana yang membagikan infografik seputar kesehatan reproduksi, pubertas, dan relasi sehat. Alvin dan tim menggunakan gaya desain yang ringan dan penuh warna agar tidak terasa seperti kampanye formal. “Kalau tampilannya seperti brosur dinas, anak muda pasti langsung skip,” katanya sambil tertawa.
Namun di balik visual yang sederhana, risetnya tidak main-main. Setiap konten yang diunggah melewati proses kurasi ketat: dikaji dari buku teks kedokteran, jurnal ilmiah, dan situs kesehatan tepercaya. “Kami punya tim riset sendiri. Prinsipnya: ringan dibaca, tapi kuat datanya,” jelas Alvin.
Responnya di luar dugaan. Engagement meningkat cepat. Pesan langsung (DM) datang setiap hari, bukan hanya dari remaja, tapi juga orang tua yang ingin tahu bagaimana berbicara dengan anaknya tentang pubertas atau menstruasi. “Awalnya kami kira yang butuh informasi cuma anak muda,” kata Alvin, “ternyata banyak orang tua yang juga bingung harus mulai dari mana.”
Beberapa di antara pesan itu berisi cerita pribadi: ada yang mengalami kekerasan, ada yang kebingungan soal orientasi seksual, ada pula yang sekadar butuh tempat aman untuk bertanya tanpa dihakimi. Tabu.id kemudian membuka layanan konseling dasar — mendengarkan, memberikan panduan, dan jika perlu, menghubungkan ke lembaga profesional atau bantuan hukum.
“Bagi kami, setiap pesan yang masuk bukan beban, tapi bukti kalau ruang aman ini memang dibutuhkan,” kata Alvin dengan nada lembut.
Mengubah Gaya Belajar Seksualitas
Tabu.id tak berhenti di dunia maya. Alvin dan tim mulai sering diundang ke sekolah, kampus, dan komunitas. Mereka membawakan seminar dan diskusi interaktif tentang berbagai topik: dari kontrasepsi, pubertas, kekerasan berbasis gender, hingga relasi yang sehat.
Bahasanya ringan, tanpa menggurui. Mereka menggunakan permainan dan ilustrasi untuk menjelaskan hal-hal sensitif. “Kita enggak datang untuk mengajari, tapi untuk ngobrol,” kata Alvin. “Karena bicara tentang tubuh dan seksualitas itu harus setara, tidak boleh membuat orang merasa malu.”
Kolaborasi pun meluas. Dengan membawa tagline #TidakLagiTabu, mereka menggandeng berbagai lembaga pendidikan, komunitas, hingga media. Setiap kegiatan selalu diwarnai antusiasme peserta yang merasa mendapat ruang untuk bertanya hal-hal yang selama ini hanya disimpan.
Salah satu peserta seminar di Jakarta bahkan menulis pesan setelah acara: ‘Terima kasih, karena baru kali ini saya bisa tanya soal tubuh sendiri tanpa takut dihakimi.’
Tantangan dan Harapan
Meski banyak dukungan, perjuangan Alvin tidak selalu mulus. Tak jarang mereka mendapat komentar sinis, tuduhan mengajarkan hal “terlarang,” bahkan penolakan dari sebagian pihak sekolah. Namun Alvin memilih sabar. “Kami tidak melawan,” katanya, “kami hanya ingin mengedukasi dengan cara yang sopan dan berbasis data.”
Baginya, tabu bukan untuk dihapus, tapi untuk dijelaskan. Karena selama masih ada rasa malu untuk bertanya, kesalahan akan terus berulang. “Kita ingin mengubah rasa malu itu jadi rasa ingin tahu,” ucapnya tegas.
Kini, Tabu.id telah tumbuh menjadi komunitas belajar yang dikenal luas. Ribuan pengikut aktif di Instagram, Facebook, dan YouTube menjadi bukti bahwa isu yang dulu dianggap sensitif kini bisa dibicarakan dengan terbuka.
Apresiasi dan Langkah ke Depan
Atas kerja keras dan kontribusinya dalam bidang kesehatan masyarakat, Alvin Theodorus menerima Satu Indonesia Award 2021 dari PT Astra untuk kategori Kesehatan tingkat provinsi. Penghargaan itu ia anggap bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang membangun kesadaran baru.
“Kalau dulu seksualitas dianggap tabu, sekarang harus jadi hal yang kita pahami bersama,” katanya. “Karena kesehatan reproduksi bukan soal moral, tapi soal masa depan.”
Sore itu, di ruang kerjanya yang penuh tempelan poster edukatif, Alvin kembali menatap layar laptop. Satu konten baru siap diunggah: ilustrasi sederhana bergambar dua tangan saling merangkul, dengan tulisan tebal di bawahnya — “Tubuhmu, hakmu.”
Ia tersenyum. Di dunia yang masih sering menutup mata, Alvin Theodorus memilih untuk menyalakan lampu — satu konten, satu percakapan, satu keberanian pada satu waktu.